GOAL VS. OBJECTIVES
Posted: 2017-03-29

Terkadang cerita dan pengalaman hidup orang lain bisa menjadi pembelajaran yang sangat bagus untuk hidup kita. Seperti cerita dari salah satu rekan saya, dia adalah seorang marketing yang sudah hampir setahun menjalani profesinya. Sama halnya dengan marketing lainnya, dia juga sudah memiliki goal yang ingin dicapai.

Saat terakhir bertemu, dia malah berkeluh kesah, “Kenapa goal saya belum kunjung tercapai padahal saya sudah melakukan banyak usaha dan kerja keras dalam profesinya?” Saya menimpalinya dengan sebuah pertanyaan “Apa yang jadi goal kamu?” “Menjadi marketing yang sukses yang bisa membahagiakan orang disekitar saya terutama keluarga”,

jawabnya.

Wow… Goal yang sangat mulia menurut saya.

“Sekarang kamu sudah sampai dimana dalam proses pencapaian itu?” timpal saya.

Dan dia hanya menjawab “ Ya…. Masih belum tercapai juga”.

Sejujurnya saya mau membahas dengan dia lebih jauh lagi, tetapi melihat raut muka galau yang sangat terlihat jelas, saya urungkan niat saya dan memutuskan untuk membahasnya dalam tulisan ini saja.Pada saat kita memiliki sebuah tujuan yang ingin dicapai dalam menjalankan suatu profesi, seperti halnya temen saya tadi, tujuan itu akan cenderung bersifat abstrak atau tidak terstruktur. Tujuan yang ingin dicapai biasanya sangat general dan tidak detail, sehingga susah untuk bisa mewujudkannya karena tidak bisa terukur dengan mudah proses pencapaiannya.

Trus bagaimana cara mewujudkan tujuan kita?Harus ada sesuatu yang lebih konkrit dan terstruktur untuk bisa mengukur proses pencapaian goal itu sendiri. Inilah yang biasa kita sebut dengan objektif.Kita kembali ke contoh goal teman saya tadi : “Saya ingin jadi marketing yang sukses”. Untuk mencapainya kita harus menentukan objektif yang bisa menuntun kita mencapai tujuan tersebut.

Misalnya :

# Saya harus bisa closing dalam 3 bulan kedepan (akan membuat saya lebih dekat dengan sukses)

# Untuk bisa closing dalam 3 bulan, saya harus memiliki lebih kurang 600 prospek selama 3 bulan itu

# Untuk mencari lebih kurang 600 prospek tersebut saya harus melakukan kegiatan kegiatan :

- ………………………………………

- ………………………………………

- ………………………………………

# Untuk melakukan follow up ke 600 prospect yang ada saya harus melakukan pertemuan / on call / dll

per minggunya lebih kurang sebanyak ……………………… dan perharinya lebih kurang ……………………………

Itu hanya contoh kecil dan sederhana dari goal dan objektif. Dari contoh sederhana ini kita bisa melihat posisi kita dalam proses pencapaian tujuan. Lebih penting lagi kita bisa tau harus melakukan apa untuk lebih dekat dengan tujuan kita. Seperti sampai saat ini saya baru memiliki sekitar 300 prospek, yang artinya saya masih harus butuh sekitar 300 prospek lagi. Untuk dapat menikmati sesuatu dalam hidup, kita harus tau dulu secara persis apa yang kita inginkan dalam hidup.

“Sudahkah kita tau apa yang kita inginkan dalam hidup kita masing-masing?”

Good Luck and happy selling

LOGIN