ARTPRENEUR TALK 2018 by CIPUTRA ARTPRENEUR CIPTAKAN SOLUSI BISNIS DI ERA MILENIAL
Posted: 2018-02-01

Pertarungan bisnis di era milenial sangat ketat dan sulit diprediksi. Ini tak lepas dari karakteristik consumer-nya. Disadari bahwa generasi milenial ini dibesarkan oleh teknologi dan kemudahan informasi. Mereka serba kritis, serba cepat, serba instan dan terbebas dari comfort zone. Lantas, bagaimana menyikapinya? Temukan jawabannya pada ajang Artpreneur Talk 2018 dengan tema “Converting Millenials Into New Brand Lovers”. Ajang ini akan digelar pada 14 Februari 2018 di

     Ciputra Artpreneur, Ciputra World 1, retail podium lantai 11 Jalan Prof.DR. Satrio Kav. 3-5 Jakarta.    

 

Jakarta, 30 Januari 2018 – Presiden Joko Widodo menargetkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia pada tahuh 2018 akan mencapai 5,4 persen, atau meningkat 0,3 persen dari target 2017 sebesar 5,1 persen. Sangat disadari bahwa pertumbuhan ekonomi ke depan tergantung pada consumer-nya yang sekarang dikuasai oleh Generasi Millenial atau yang biasa dikenal dengan generasi Y (generasi bebas).

Pada tahun 2015 jumlah millenial di Indonesia ada 84 juta orang berdasarkan data dari Bappenas. Sedangkan jumlah penduduk di Indonesia mencapai 225 juta. Jadi kalau dipersentasikan, millenials ada sekitar 33% dari penduduk Indonesia. Sementara jika melihat dari usia produktif yang ditentukan oleh pemerintah yakni 16-64 tahun.

Millenials Indonesia terbagi 3 (tiga) kelompok. Kelompok pertama adalah The Students Millenials yang lahir pada tahun 1993 hingga 2000. Tahun 2015 kelompok ini rata-rata berusia 15 – 22 tahun. Smartphone sudah masuk di era ini, dan media sosial juga sudah mulai digunakan.

Kelompok kedua adalah The Working Millenials yang lahir pada tahun 1987 hingga 1993. Pada tahun 2015 kelompok ini berusia 22 – 28 tahun. Kelompok ini mengalami boom social media saat masuk SMA.

Kelompok ketiga adalah The Family Millenials, yaitu mereka yang sudah berkeluarga atau mulai memikirkan kearah tersebut. Kelompok ini rata-rata berusia 28-35 tahun pada 2015. Mereka adalah produk era reformasi karena pada tahun 1998 mereka baru saja lulus SMA dan juga mengalami masa transisi dari analog menjadi digital pada masa SMA.

Generasi ini tumbuh dengan adanya kemajuan teknologi, informasi, kebebasan untuk memilih dan lainnya. Generasi ini pula bebas dalam menentukan ingin menjadi apa dia kelak. Tetapi kebebasan di sini maksudnya adalah masih dalam koridor yang positif. Kenapa bisa dikatakan generasi  bebas? Karena besarnya peluang yang ada dan perubahan sifat orang tua yang lebih supportif dibanding orang tua sebelumnya.

Munculnya Generasi Millenial membuat pelaku usaha harus memutar otak karena karakteristik generasi ini sangat dinamis. Bagaimana solusinya agar bisnis Anda sukses di era millennial ?

Jawabannya bisa Anda temukan di ajang Artpreneur Talk 2018 yang akan digelar pada 14 Februari , bertempat di Ciputra Artpreneur Theatre. Artpreneur Talk 2018 memilih generasi millenials sebagai pokok pembahan tema “Converting Millennials Into New Brand Lovers”.

 

Artpreneur Talk 2018 akan menampilkan moderator yang  kredibel dan pembicara terkemuka di industri. Pada debutnya tahun ini, Rina Ciputra Sastrawinata, Presiden Direktur Ciputra Artpreneur, mengatakan program ini merupakan bentuk kepedulian Ciputra Group dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di Iindonesia “Artpreneur Talk ini menjadi acara tahunan yang menyediakan konten menarik, mendidik dan beragam tentang topik hangat terkini. Ini merupakan salah satu bentuk kontribusi kami kepada Indonesia”, kata Rina Ciputra Sastrawinata.

Menurut Rina, para pembicara yang akan tampil di antaranya William Tanuwidjaja, Co-Founder dan CEO Tokopedia, Piotr Jakubowski, Chief Marketing Officer GO-JEK, Farhana Devi Attamimi, Executive Director of Strategy , Hakuhodo Network Indonesia & SEAA, dan masih banyak lagi pembicara yang bisa memberikan solusi terhadap perusahaan yang ingin memenangkan pertempuran di era digital.

Artpreneur Talk juga mengundang beberapa influencer millennial tekenal seperti Agung Hapsah, Content Creator dengan 770k subscribes dan 41 juta views, Ayudia Bing Slamet dengan 1,1 juta Instagram followers dan Benakribo dengan 220k Youtube subscribes.

Dijelaskan lebih lanjut, generasi milenial menjadi tema utama karena anak muda yang identik dengan melek teknologi dan pop culture merupakan kekuatan potensial Indonesia yang sangat besar. Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mencatat, Indonesia akan mendapatkan bonus demografi, yaitu jumlah usia angkatan kerja (15 – 64 tahun) mencapai 180 juta jiwa (70 persen) pada tahun 2020 – 2030. Sementara itu populasi penduduk Indonesia yang berusia antara 15 – 34 tahun sangat besar, yakni mencapai 34,45 persen.

Acara Artpreneur Talk 2018 tersebut akan dibuka oleh Ir. Ciputra, pendiri dari Ciputra Group. Dalam press conference yang digelar pada 30 Januari 2018, Ciputra menjelaskan tentang kondisi perekonomian Indonesia saat ini sedang terjadi transisi dari pola bisnis konvensional ke bisnis digital.

“Indonesia merupakan salah satu kekuatan ekonomi terbesar di Asia Tenggaa yang punya peranan penting di tingkat global. Yang perlu diperhatikan adalah situasi bisnis di Indonesia saat ini tengah berada pada era transisi dari bisnis berbasis konvensional atau tradisional menuju ke era digital. Transisi ini membutuhkan kiat khusus agar para pelaku bisnis tetap bersaing dan menjadi pemenang”, kata        Ir. Ciputra.

Sementara itu Piotr Jakubowski (CMO GO-JEK) yang juga akan menjadi salah satu pembicara di Artpreneur Talk 2018 menjelaskan pentingnya peranan dunia ICT di era milenial. Senada dengan Ir. Ciputra dan Rina Ciputra Sastrawinata, Piotr menganggap Indonesia memiliki dua potensi utama yang bisa menjadi kekuatan yaitu generasi milenial dan pemanfaatan teknologi digital sebagai model bisnis masa depan sebagai pendorong tumbuhnya ekonomi.

“Dalam mengembangkan usaha di era digital baik itu startup atau bisnis lainnya, penting untuk memiliki diferensiasi. Di sinilah generasi milenial memiliki peran penting karena mereka biasanya memiliki ide-ide brilian yang kreatif dan seringkali tidak terpikirkan sebelumnya”, ujar Piotr Jakubowski, Chief Marketing Officer GO-JEK.

Sedangkan Yoris Sebastian, founder of OMG Consulting sekaligus salah satu penulis buku berjudul Generasi Langgas Millenials Indonesia mengatakan saat ini millenials entrepreneur di era digital masih sangat rendah. Padahal menurut Yoris potensinya cukup besar untuk generasi langgas yang karakteristiknya suka kebebasan. “Mereka seharusnya menjadi entrepreneur bukan menjadi karyawan”, tutur Yoris.

Nah, bagaimana menyikapi persoalan tersebut ? Jawabannya akan Anda temukan pada tanggal 14 Pebruari dalam acara Artpreneur Talk 2018.

LOGIN