Dalam Persaingan Ketat Pengembang Butuh Broker
Posted: 2017-03-13

Jakarta – Sejumlah kalangan memperkirakan pasar properti di Indonesia relatif akan belum membaik. Pengembang masih akan menghadapi banyak tantangan eksternal, terutama situasi politik dan keamanan jelang pemilihan kepala daerah (Pilkada) DKI Jakarta putaran kedua dan goncangan politik dari persidangan kasus E-KTP yang melibatkan sejumlah nama-nama besar di tanah air.

Keadaan ini membuat pemasaran properti secara langsung dari pengembang ke konsumen juga mengalami kesulitan. Tetapi hal ini tidak akan berpengaruh banyak pada transaksi melalui agen properti. Malah diduga tren pemasaran property melalui agen pemasaran atau broker kian marak dilakukan.

Di tahun ini, kata Ketua Umum DPP Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (Arebi) Hartono Sarwono, pengembangakan membutuhkan broker untuk menghubungkannya dengan konsumen. Pengembang memerlukan pemasaran yang agresif kepada konsumen di tengah maraknya pilihan produk properti yang ada di pasar.

“Hal ini tidak dapat dihindari. Jadi untuk memperluas pemasarannya, pengembang sangat membutuhkan broker,” ujarnya ketika dihubungi beberapa waktu lalu.

Hartono mengatakan ada beberapa pengembang yang menyerahkan 100% penjualan produknya melalui broker dan ada juga yang hanya melepas setengahnya kepada broker. Komposisi penjualan lewat broker setiap pengembang berbeda.

“Tapi yang pasti sekarang sudah hampir tidak ada pengembang yang menjual langsung ke konsumen,” ucapnya.

Penjualan proyek property untuk pasar primer oleh broker, menurutnya, relative mudah khususnya untuk daerah-daerah tertentu yang strategis seperti proyek yang dekat dengan lokasi pembangunan infrastruktur jalan tol, LRT, MRT, atau infrastruktur lainnya yang dikembangkan pemerintah.

“Pembangunan infrastruktur sangat mempengaruhi penjualan properti. Konsumen banyak mengincar proyek property khususnya apartemen yang dekat stasiun LRT karena bosan menghadapi kemacetan. Rata-rata proyek apartemen selesai pembangunannya berdekatan dengan waktu selesai pembangunan proyek LRT,” urainya.

Sebagai perantara antara penjual dan pembeli, broker menurutnya harus memberikan informasi yang jelas dan terbuka serta memberikan layanan terbaik kepada kedua belah pihak. “Broker harus terbuka dan jujur kepada konsumen terkait harga dan detail produk ke pembeli.”

Menurutnya, broker tidak boleh menahan penjualan produk property kemudian baru dipasarkan ketika sudah ada kenaikan harga di pasar. Tidak boleh ada konflik kepentingan broker. Broker harus fair dan berdiri di tengah-tengah antara pengembang dan pembeli. Tapi broker boleh membeli property dari pengembang untuk kemudian dipasarkan kepada konsumen asalkan dijelaskan kepada konsumen secara jelas terkait harga dan produknya.

Biasanya broker membeli beberapa produk yang memiliki sudut pandang panorama yang baik untuk apartemen ataupun pada nomor-nomor unit yang bagus baru kemudian dipasarkan kepada konsumen setelah ada kenaikan harga dari pengembang.

“Konsumen memiliki kebebasan untuk membeli di antara banyaknya pilihan jalur pembelian dan broker yang ada,” pungkasnya.

Penulis: Erlan Kallo

LOGIN